Jenis-jenis System Pemilu

Jenis-Jenis System Pemilu yang ada di Dunia

Oleh :

Said Hamzali

Bahan ini diperluas dari mata kuliah pemilu dan  perilaku politik yang disampaikan oleh bapak Bambang EC Widodo, ketua Bawaslu

Pemilu adalah salah satu aspek demokrasi yang terpenting,  dengan melaksanakan pemilu akan menghasilkan penyelenggara negara yang mengisi posisi penting dalam lembaga-lembaga negara yang bertanggungjawab mewujudkan tujuan negara yang tercantum dalam konstitusi.  Adapun Jenis-jenis pemilu yang ada di negara-negara demokrasi yaitu :

  1. 1.    First Past The Post Voting System (Single Member Plurality)

Pemilih hanya memilih satu kandidat pada surat suara pada setiap wilayah geografis. Suara itu di tambahkan masing-masing calon untuk setiap wilayah geografis, dan kandidat yang mendapatkan suara terbanyak akan memenangkan pemilihan umum dan mewakili wilayah tersebut. Sistem ini didesain untuk memilih satu kandidat pemenang, bukan beberapa pemenang untuk satu daerah pemilihan, dan yang perlu diingat pemilih hanya memilih kandidat bukan partai politiknya.

  1. 2.    Block Vote Electoral System

Pemilih mempunyai pilihan  (votes) sebanyak jumlah kursi yang diperebutkan di distriknya dan biasanya  bebasa memilih calon perseorangan terlepas dari afiliasi partai politik. Pemilih menggunakan hak pilihnya sebanyak (atau sedikit) kursi yang diperebutkan seperti yang mereka inginkan. System ini digunakan di Yordania, Mongolia, Filipina dan Thailand.

  1. 3.    Partay Block Vote (PBV)

Dalam system ini pemilih hanya memiliki satu suara, pemilih memilih kandidat di dalam daftar calon, daripada memilih individu. Disini partai yang memperorel suara terbanyak memenangkan  semua kursi di distrik tersebut dan dibagi sesuai daftar kandidat yang memperoleh suara (the winners takes all). System ini pernah digunakan di Kamerun, Chad, Djibouti dan Singapura.

  1. 4.    Alternative Vote

Pemilih memberikan peringkat pada calon yang mereka pilih dan memungkinkan pemilih memberikan preferensi mereka tidak hanya pilihan utama mereka. Cara menghitung perolehan suara adalah dengan menghitung preferensi pertama. Jika ada calon mendapatka 50%  suara + maka langsung ditetapkan sebagai terpilih.

  1. 5.    Two Round System (TRS)

Sistem ini seperti namanya menggunakan dua putaran dala satu pemilihan umum dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama. Putaran yang pertama dilakukan seperti dalam sistem single round plurality/majority system, jika sebuah partai atau calon memenangkan proporsi tertentu atau mayoritas suara dalam putaran pertama tidak perlu dilakukan putaran kedua. Proporsi tertentu itu biasanya mayoritas mutlak, namun begitu sejumlah negara menetapkan presentase tertentu (Indonesia dalam pilkada menetapkan 30% dari suara sah).

  1. 6.    Proportional Representation (PR)

Alasan rasional dibalik semua sistem PR adalah adanya kesadaran tidak proporsionalnya perolehan suara partai politik dihubungkan dengan perolehan kursi di lembaga legislatif. Ada 2 jenis sistem PR, yi List PR dan Single Transferable Vote (STV). Sistem PR menghendaki digunakannya distrik pemilihan (dapil) dengan jumlah anggota banyak (lebih dari satu) makanya sistem ini disebut multy member constituency (MMC). Di beberapa negara seperti Israel dan Belanda, seluruh negara menjadi satu daerah pemilihan yang beranggota banyak. Dibeberapa negara seperti Argentina, Portugal, dan Indonesia, distrik elektoral adalah provinsi, sementara di Indonesia agak spesifik karena setiap dapil jumlah kursi yang diperebutkan pada dasarnya ditentukan oleh KPU.

  1. 7.    List Proportional Representation System

Di dalam sistem pemilu List PR setiap partai politik atau kelompok menampilkan sebuah daftar calon untuk daerah pemilihan beranggota banyak (multi member electoral distrik. Pemilih memilih untuk partai  dan partai akan mendapatkan jumlah kursi yang proporsional sesuai dengan presentasi perolehan suara yang dimenangkannya di daerah pemilihan tersebut. Dalam sistem List PR yang tertutup kandidat yang memenangkan kursi ditentukan dalam urutan nomor kandidat dalam list (daftar) yang disediakan. Makin kecil angka calon dalam daftar makin besar peluangnya untuk terpilih. Dalam sistem List PR yang terbuka, pemilih dapat mempengaruhi dan menentukan keterpilihan seorang calon berdasarkan preferensi yang mereka berikan di dalam surat suara.

  1. 8.    The Single Tranferable Vote (STV)

Ditemukan di abad 19  oleh Thomas Hare dan Carl Andrae. Menggunakan model multy member district. Pemilih memberikan rangking pada kandidat untu preferensi di dalam kertas suara seperti dalam alternative vote system.

  1. 9.    Mixed Member Proportional (MMP)

MMP adalah sistem campuran dalam hal pilihan-pilihan yang dikehendaki oleh pemilih untuk memilih perwakilan melalui dua sistem yang berbeda – satu List PR System dan biasanya satu lagi sistem pluralitas/mayoritas- biasanya sistem List PR mengkompensasi hasil yang tidak proporsional dari sistem pluralitas/mayoritas. Ada dua system pemilu jenis ini yaitu Mixed Member Proportional dan Parallel system.

  1. Mixed Member Proportional yaitu Jika hasil dari dua jenis pemilu terkait dengan alokasi kursi dalam sistem PR tergantung pada hasil pemilihan berdasarkan sistem pluralitas/mayoritas dan kompensasi diberikan akibat disproporsionalitas yg timbul akibat sistem pluralitas/mayoritas.
  2. Parallel system yaitu Jika dua set kursi parlemen,saling terpisah dan dibedakan serta tidak saling tergantung satu sama lain dalam alokasi kursi.

 

Note : Mudah-mudahan dengan adanya bahan ini bisa memudahkan mas/mbak dalam mempelajari tentang jenis-jenis system pemilu. Tolong berikan komentar anda untuk perbaikan bahan yang saya posting ini. Terimakasih

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s